Stratifikasi Sosial



Setiap individu adalah anggota dari suatu kelompok, tetapi tidak setiap warga negara dari suatu masyarakat hanya menjadi anggota dari suatu kelompok tertentu, ia bisa menjadi anggota lebih dari satu kelompok sosial. Berkaitan dengan penempatan individu dalam kelompok sosial, maka individu memiliki kemampuan untuk :
1)     Menempatkan diri
2)     Ditempatkan oleh orang lain dalam suatu lapisan sosial ekonomi tertentu

Penempatan seseorang dalam lapisan sosial tertentu merupakan pembahasan stratifikasi sosial. Istilah Stratifikasi atau Stratification berasal dari kata STRATA atau STRATUM yang berarti LAPISAN. 

Menurut Pitirim A. Sorokin, pelapisan masyarakat adalah perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas- kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarchis).

Pelapisan sosial adalah pembedaan antar warga negara dalam masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial secara bertingkat. Wujudnya adalah terdapat lapisan-lapisan di dalam  masyarakat diantaranya ada kelas sosial tinggi, sedang, dan rendah. Pelapisan sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang itu disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang.


Masyarakat yang berstratifikasi sering dilukiskan sebagai suatu kerucut atau piramida, dimana lapisan bawah adalah paling lebar dan lapisan ini menyempit ke atas. Dalam kaitannya dengan stratifikasi sosial, Max Weber menjelaskan stratifikasi sosial dalam tiga dimensi, yaitu :
1)     Dimensi kekayaan
2)     Dimensi kekuasaan
3)     Dimensi prestise
Dimensi di atas membentuk formasi sosial tersendiri. Dimensi kekayaan membentuk formasi sosial yang disebut kelas, dimensi kekuasaan berbentuk partai, dan dimensi prestise membentuk status.

Dalam Class, Status, Party, menjelaskan bahwa seseuatu dapat disebut kelas apabila :
1.      Sejumlah orang yang sama-sama memiliki suatu komponen tertentu yang merupakan sumber dalam kesempatan hidup mereka
2.      Komponen ini secara eksklusif tercermin dalam kepentingan ekonomi berupa pemilikan benda-benda dan kesempatan untuk memperoleh pendapatan
3.      Hal itu terlihat dalam kondisi komoditas atau pasar tenaga kerja.


Dua Proses Terjadinya Pelapisan Sosial

1.      Terjadi secara otomatis, karena faktor – faktor yang dibawa individu sejak lahir. Misalnya kepandaian, usia, jenis kelamin, keturunan, sifat keaslian keanggotaan seseorang dalam masyarakat.
2.      Terjadinya dengan sengaja untuk tujuan bersama. Biasanya dilakukan dalam pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam organisasi formal seperti pemerintahan, partai politik, perusahaan, dan lain-lain.

Sifat – Sifat Pelapisan sosial (Soerjono Soekanto)

1.      Stratifikasi Sosial Tertutup
Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari strata sulit mengadakan  mobilitas vertikal. Walaupun ada mobilitas tetapi sangat terbatas pada mobilitas horizontal saja.
Contoh :
·        Sistem Kasta, Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik ke lapisan Brahmana


2.      Startifikasi Sosial Terbuka
Stratifkasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap anggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maupun horizontal, dan sebaliknya.
Contoh :
·        Seorang pengemis dapat menjadi pengusaha jika ia bekerja keras untuk merubah nasibnya.

3.      Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi ini merupakan campuran kombinasi antara stratifikasi tertutup dengan stratifikasi terbuka.
Contoh :
·        Seorang Bal berkasta Brahmana mempunyai kedudukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buruh, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka ia harus menyesuaikan diri dengan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.

Wilayah yang menganut sistem stratifikasi sosial

Sistem stratifikasi sosial pada masyarakat feodal
Pola dasar masyarakat feodal;
1.      Raja dan kaum bangsawan merupakan pusat kekuasaan yang harus ditaati dan dihormati oleh rakyatnya, karena raja mempunyai hak istimewa
2.      Terdapat lapisan utama, yakni raja dan kaum bangsawan (kaum feodal) dan lapisan di bawahnya, yakni rakkyatnya.
3.      Adanya pola  dan ketergantungan dan patriomonialistik. Artinya, kaum feodal merupakan tokoh panutan yang harus disegani.
4.      Golongan bawah cenderung memiliki sistem stratifikasi tertutup.


Lapisan sosial pada masyarakat feodal di Sulawesi Selatan

Masyarakat sulawesi selatan memiliki latar belakang feodalisme. Banyak kerajaan besar pernah berkuasa di sana, seperti kerajaan Gowa, Bone, dan Mandar. Melihat latar belakang tersebut, tidak heran jika terdapat strata sosial pada masyarakatnya :
1.      Golongan bangsawan atau keturunan raja – raja yag disebut anakurung pada lapisan atas. Golongan ini memiliki gelar tertentu, seperti andi atau karaeng.
2.      Lapisan kedua diduduki oleh orang merdeka atau bukan  budak yang disebut to-maradeka
3.      Golongan ketiga disebut ata, orang yang terdiri dari para budak yang meliputi orangoorang yang tidak mampu membayar utang, atau orang-orang yang kalah perang.
Sistem stratifikasi sosial yang terjadi di sulawesi selatan adalah stratifikasi sosial tertutup. 


sumber :
E-book Universitas Gunadarma. Bab 6 pelapisan sosial dan persamaan derajat

No comments:

Please feel free to give your comment related to the topic!

Powered by Blogger.